Juragan Tanah Yang Sederhana


Beberapa bulan yang lalu ane bersama ayah pergi ke rumah seorang juragan tanah, ngapain emang? ya buat beli tanah lah, masa beli baju, hehe. Sebelum kami sampai di rumah beliau, kami harus melewati banyak sekali perumahan, ya, lebih dari 7 perumahan kami lewati, akhirnya ayah menyuruh ane untuk menghentikan kendaraan, tanda bahwa kami telah sampai ke tujuan, rumah si bapak juragan tanah.

Ane liat ampak seorang laki-laki setengah baya, kurang lebih seperti ayah dengan pakaian yang apa adanya beralaskan sendal capal ( sendal jepit  ) “itu nak orangnya” kata ayah. Kamipun disambut oleh sang juragan dengan hangat, senyum dan tawa ayah menandakan bahwa ia sedang gembira karena beliau bisa kembali bertemu dengan kawan lamanya, sang juragan tanah.

Sebelum bertemu, ane menyangka beliau adalah orang yang berpenampilan ‘wah’ layaknya juragan-jurangan lain yang ane kenal sebelumnya, ternyata beliau ini telah mematahkan argumen yang selama ini bersemayam di antara dua telinga ane, semua perkiraan ana kontras dengan realita ini. Bukan hanya pakaian beliau, rumah beliau pun juga tak kalah sederhana, bahkan ane kira  rumah megah disamping beliau adalah rumahnya.

Ayah pun membuka pembicaraan, menyatakan maksud dan tujuan kedatangan kami, sembari berdiskusi beliapun sambil berbagi cerita dengan kami, supel deh orangnya dan paling mengagetkan ternyata perumahan yang kami lewati sebelum sampai tadi semuanya adalah milik beliau, beliau bekerjasama dengan developer untuk membangun perumahan.  Waw…luar biasa… Kesempatan yang berharga ini tidak boleh disia-siakan, ane banyak bertanya-tanya dengan beliau, tentang pengalaman beliau dan yang lainnya, dan diantara pertanyaan ane “uwa, kenapa uwa bisa santai dan sederhana kayak begini? padahal kan uwa juragan tanah, punya banyak perumahan apapun yang uwa inginkan bisa uwa beli dengan mudah?”

Sambil tersenyum dan memegang  bahu ane seraya berkata

” Nak, hidup ini kalo untuk bermegah-megahan, untuk berfoya-foya gak akan ada habisnya, gitu-gitu aja. Lebh baik hidup sederhana saja sesuai dengan apa yang kita butuhkan bukan sesuai dengan apa yang kita inginkan, lagi pula kebahagiaan bukan ada pada banyaknya harta, segala kelebihan harta yang didapatkan lebih baik dijadikan tabungan untuk akhirat”

Wow, jawaban yang sangat masuk dan pantas untuk direnungkan, antara keinginan dan kebutuhan, hehe…emang sih kaga mudah ngelepasin keinginan mau beli ini, mau beli itu, apalagi di zaman globalisasi seperti sekarang ini, zaman yang penuh dengan diskon mulai dari 50% sampai 80% namun belum ade yang berani ngasih diskon sampai 100%😀 pasti banyak yang ngiler kepengen beli, walaupun udah tau harganya udah dinaikin 2x lipat, tetep aja ingin beli. Sebelum mengambil keputusan untuk membeli sesuatu yang kita inginkan setidaknya kita musti mikir lah dengan jernih, dengan akal yang sehat dan rasio apakah ini sanyang akan dibeli sangat dibutuhkan atau hanya sekedar keinginan nafsu belaka, kalo masih ngotot mau beli, pasti bakalan terjerembab dan kedodoran sendiri🙂

Kemudian kata beliau bahwa kebahagian bukan ada pada harta menurut ane ini betul juga, uang bukan tujuan, namun adalah bagian dari kehidupan, pendukung untuk beribadah kepada Allah.  Jadi kekalahanlah bagi orang yang menjadikan uang sebagai aim of life, lho? kok bisa? yah bisa lah, jawabanya sangat sangat sederhana kawan, dalam hidup kita bukan mencari uang, namun mencari kebahagiaan ! apa guna kita punya uang berjuta-juta tapi anak kita, orang tua kita sakit-sakitan, atau keluarga berantakan? apalagi kalo hidup di dalam jeruji besi,  apa guna uang banyak bila hidup harus dihabiskan di dalam jeruji besi?  pasti dah hidup bakalan kehilangan maknanya.

Celotehan sederhana beliau mengingatkan ane tentang firman Allah bahwa harta lebih rendah kedudukannya daripada Beribadah kepada-Na :

المال والبنون زينة الحياة الدنيا والباقيات الصالحات خير عند ربك ثوابا وخير أملا 

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan

juga mengingatkan ane akan hadits Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

اغتنم خمساً قبل خمس: شبابك قبل هرمك، وصحتك قبل سقمك، وغناك قبل فقرك، وفراغك قبل شغلك، وحياتك قبل موتك

Manfaatkanlah 5 perkara sebelum datang 5 perkara; Masa mudamu sebelum datang waktu tuamu, Masa sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, Masa kayamu sebelum datang masa fakirmu, Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, Hidupmu sebelum datang kematianmu.

Semoga segala rezeki yang Allah berikan kepada kita adalah rezeki yang penuh dengan berkah serta bisa menjadikan kita semakin dekat dengan-Nya, bukan semakin jauh dari-Nya, Allahumma amiiin..

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s